Administrasi proyek yang rapi dan lengkap sesuai dengan kondisi di lapangan merupakan salah satu faktor penting dan menjadi penentu seseorang insan PUPR bisa sukses menjalankan tugas.
Selama menjalani karier dan awal hingga sekarang diamanahi sebagai Kepala Satuan Kerja PJN II Sumatera Utara Teuku Rahmatsyah Putra memegang teguh prinsip ini. Putra kelahiran Aceh ini ingat betul, peran mantan atasannya menggembleng dirinya tentang pentingnya administrasi proyek.
“Atasan saya dulu itu namanya Pak Hilal, beliau berjasa betul mengajari saya pentingnya administrasi. Dari ilmu itu, menurut saya, pengadministrasian itu sangat perlu dan sangat penting. Apa pun yang kita laksanakan di lapangan. Kita bekerja sebaik apa pun di lapangan, tapi jika tanpa administrasi yang bagus, semua akan nol. Tidak ada gunanya. Jadi, saya betul-betul ditempa oleh Pak Hilal itu untuk belajar bagaimana administrasi proyek yang baik,” kata Rahmat yang waktu kecil bercita-cita jadi dokter itu.
Masa Kecil
Rahmat, lahir di Banda Aceh 28 April 1976. Sejak kecil, sebenarnya ia bercita-cita menjadi dokter. Namun, karena dorongan ibunya ia akhirnya memilih sekolah di jurusan Teknik Sipil di Universitas Syah Kuala di Banda Aceh.
Mengenang masa kecil, bagi Dadam—demikian ia biasa disapa—ada banyak peristiwa yang begitu membekas dan terus dikenang. Salah satu yang paling diingat saat ia pertama sekali berkelahi dengan temannya.
“Waktu itu, saya begitu takut. Sebab, di rumah sudah ditanamkan betul untuk tidak boleh berkelahi. Itulah pengalaman berantam pertama dan terakhir. Saya kapok karena bukannya dibela ibu, tetapi malah tambah dimarahi,” ujar Dadam yang menyelesaikan masa studi dasar hingga menengah di Banda Aceh.

Dadam juga tidak lupa kenangan bersama ayahnya, yang juga bekerja di PUPR. “Saya sering dibawa ke proyek oleh ayah. Waktu itu saya masih kecil. Sebagai anak bungsu, saya tahu ayah dan ibu sangat menyayangi saya. Demikian juga dengan ketiga kakak saya. Tiba-tiba, pada saya usia 10 tahun, ayah berpulang. Jadilah, saya lebih banyak waktu bersama ibu,” ujar Dadam.
Sebagai anak yang masih kecil, ditinggal ayah Dadam sangat merasa kehilangan. ”Karena itulah ibu saya pun menjadi orangtua tunggal bagi saya. Ia terus menempa dan mendidik saya. Makanya, saat saya berantam itu, ibu begitu marah dan itulah yang membuat saya kapok,” kata Dadam.
Sering dibawa ayah ke proyek, Dadam pun memutuskan ingin seperti ayahnya, bisa membangun jalan dan jembatan. Sebab itu, setelah lulus SMA ia langsung mendaftar di Universitas Syiah Kuala di Aceh lulus pada 2001. Ia memilih jurusan transportasi. “Dari dulu saya ingin belajar tentang konstruksi jalan,” ujarnya.
Kemudian, pada 2022 ia telah menyelesaikan pendidikan S-2 di Universitas Sumatera Utara.
Didikan ibu—yang dulu pernah menjadi guru lalu agar punya waktu yang banyak untuk mendidik anak-anaknya, ia mengundurkan diri—tak pernah ia lupakan sepanjang hayat. Dadam mengaku, dirinya bisa sarjana dan bisa bekerja di PUPR semua hanya karena doa dan kerja keras ibunya. ”Pesan ibu yang selalu saya ingat untuk tidak pernah coba-coba kompromi korupsi. Apa pun keadaanmu jauhi itu,” kata Dadam.
Perjalanan Karier
Sebelum bekerja di PUPR, Dadam pernah bekerja di bidang swasta hingga akhirnya setelah S-1 ia melamar menjadi PNS.
Saat melamar menjadi CPNS dan diterima pada 2003, ia ditempatkan sebagai pengawas lapangan di Bina Marga Aceh. Saat itu ia sudah menangani paket-paket APBN. Kemudian setelah diangkat jadi PNS, ia langsung diberi tugas menjadi kepala tata usaha (KTU).

“Kalau dulu di Aceh itu, KTU merangkap koordinator lapangan. Saat menjadi KTU inilah saya belajar banyak dari Pak Hilal,” ujarnya.
Setelah menjadi KTU di Aceh, ia beberapa kali menjadi asisten dalam kurun waktu 12 tahun. Baru pada 2014 ia dipercaya menjadi pejabat pembuat komitmen (PPK). Kemudian ia pindah ke BBPJN Sumut menjadi PPK hingga tahun 2017.
“Pada masa kepemimpinan Kabalai Paul Ames, saya dipromosikan menjadi Satker bertanggung jawab di PJN 3. Kemudian pada 2022 saya dipindah menjadi Satker di PJN 2 hingga sekarang,” kata penggemar klub sepak bola Inggris, Manchester United, ini.
Bagi Dadam bekerja di PUPR adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan profesionalitas yang tidak saja hanya diperoleh dengan teori saat belajar di bangku kuliah. Namun, pelajaran di lapangan yang setiap saat harus dijalani dan dipelajari.
Dadam—yang tak punya pantangan akan makanan kecuali kepiting—tidak melupakan sebuah pengalaman saat masih menjadi PPK di mana paket yang ditangani kritis. “Waktu itu sudah minus besar. Alhamduillah, akhirnya paket itu bisa selesai. Hingga sekarang tidak ada aduan dari masyarakat serta tak pernah dipanggil oleh pihak penegak hukum,” kata pengagum tim F1 “Kuda Jingkrak” Ferrari ini.
Dipercaya menjadi Satker, kepada setiap PPK dan seluruh anggota staf, Dadam sedari awal sudah menekankan untuk melengkapi setiap dokumen atau data untuk setiap proyek yang dikerjakan.
Misalnya saja, kata Dadam, apabila ada perubahan kontrak, itu semua harus tercatat dan terukur. “Harus ada laporan harian, laporan mingguan, dan bulanan. Dengan begitu, progres pekerjaan dengan mudah bisa dilihat, baik data di kertas maupun data di lapangan sudah sinkron. Termasuk soal kuantitas dan kualitas harus bisa dibuktikan dengan data berupa foto dan sinkron dengan posisi yang tepat. Kalau dibutuhkan bahan 200 kubik contohnya, di laporan harian harus tetap dihitung 200 kubik. Jadi laporan detail seperti itu harus ada,” kata Dadam.
Dengan kesiapan data tersebut, di samping memberikan efisiensi dan efektivitas dalam melakukan eksekusi di lapangan, kata Dadam, juga memudahkan pemberian laporan kepada pihak auditor sewaktu-waktu mereka perlukan.
Makna Keluarga
Di balik keberhasilan Dadam, ada keluarga yang selalu menyemangati. Istrinya, Wira Melisa, yang selalu setia menjadi kekuatan dalam menjalani setiap tugas di Kementerian PUPR.
“Istri dan anak-anak saya adalah penyemangat saya dalam menjalankan segala tanggung jawab. Istri selalu yang memberi dukungan, menjaga, dan mendampingi saya,” ujar Dadam.
Ketiga anaknya juga menjadi penyemangat baginya. Anak pertamanya, Pocut Debrina Ratu Nantika (18), kini sedang kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Anak kedua Pocut Odora Nasywa masih duduk di kelas II SMP. Adapun anak ketiganya, Pocut Dara Kanzia (5) masih duduk di TK B.
“Anak pertama karena kuliah, dia tinggal di Aceh. Kedua adiknya satu rumah di Medan,” kata Dadam.
Dadam mengakui, keluarga sangat berarti dalam hidupnya. Karena itu, di hari libur saat tidak ada kegiatan di kantor, ia memanfaatkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, berwisata bareng, atau sekadar keluar makan malam bersama. “Kalau untuk si sulung, saya selalu menyempatkan diri untuk selalu menanyakan keadaannya setiap hari lewat fasilitas video call atau telepon,” kata Dadam.
Di akhir wawancara dengan tim Majalah Balai Sumut, Dadam tak lupa menitipkan pesan kepada para generesi muda yang meniti karier di PUPR. “Kepada adik-adik generasi muda, mari mencintai pekerjaan kita. Bekerjalah dengan tulus dan tetap perhatikan serta pelajari tentang administrasi proyek,” ujar Dadam.
Menurut Dadam, selama bekerja di PUPR adalah kesempatan baginya untuk terus belajar. Setiap kali ada kesempatan untuk belajar Dadam tidak menyia-nyiakannya. Sebab, atasan akan terus melihat kinerja kita.
“Jika kita membekali diri dengan belajar terus, alhasil kita juga bisa diberi tanggung jawab yang lebih untuk itu. Paling tidak, syarat untuk diberi tanggung jawab itu kita sudah punya. Karena itu, selain saya mencintai pekerjaan saya, saya juga terus belajar dan belajar,” kata Dadam.*



















