Walaupun masih terbilang sebagai pendatang baru di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara (BBPJN Sumut) pria kelahiran Yogyakarta ini tidak kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan kultur kerja di BBPJN Sumut.
Ditunjuk menjadi Kepala Bidang Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan Nasional (KPIJ) BBPJN Sumut, Nuruddin Pujoartanto, ST, MT, yang akrab dipanggil Artan, diharapkan dapat memberikan inovasi-inovasi, khususnya di bidang jalan.
Seperti halnya penerapan Building Information Modeling (BIM) 5 dimensi (5D) untuk pembangunan underpass Gatot Subroto. “Saat masih di Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk proyek desain Labuan Bajo-Golo Mori penerapan BIM masih sampai 3D, tetapi untuk di Sumut sudah menggunakan 5D, yakni menggabungkan bentuk 3D dengan penjadwalan dan penghitungan volume pekerjaan,” ujar Artan, Senin (10/4/2023), melalui wawancara online.
Ditanya pengalaman menarik selama berkarier, Artan mengatakan, setiap lokasi memiliki cerita dan kesan berbeda, tetapi pasti ada yang spesifik atau yang diutamakan. Kalau di NTT ada Paket Labuan Bajo-Golo Mori untuk acara ASEAN Summit, yang juga sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Saat itu, arahannya sangat minimalis, bahkan harus berubah desain untuk mengakomodasi clear zone sebagai bagian dari keselamatan jalan.
Baca Juga: Membangun secara Efisien dan Berkelanjutan dengan Teknologi BIM Mutakhir
“Right of Way (ROW) yang tadinya hanya 12-13 meter diubah menjadi 25 meter, kalau enggak salah, yaitu untuk mengakomodasi clear zone tadi. Di situlah saya pertama kali belajar untuk penerapan BIM, sampai hasil akhirnya di DPS juga sudah ada simulasinya atau simulator untuk ruas tersebut, serta topografi menggunakan teknologi light detection and ranging (LIDAR),” ujar penyuka gudeg makanan khas DI Yogyakarta, dan nasi goreng kambing itu.
Menurut Artan, clear zone tersebut dimaksudkan untuk area jalan yang cukup aman ketika terjadi kecelakaan, tergantung dari kecepatan rencana dari desain, termasuk untuk lebarnya. Kemudian, untuk model salurannya dan slope pun sudah ada standarnya terhadap lebar bahu serta lebar zona aman yang merupakan bagian dari ROW jalan, kemiringan bahu ataupun kemiringan saluran yang aman bila terjadi kecelakaan di ruas tersebut.

“Jadi, untuk meminimalisasi hantaman keras saat terjadi kecelakaan, apabila kendaraan terguling pun tidak terkena benturan yang fatal. Arahnya road safety. Kalau konvensional hasil desain berupa 2D, dengan BIM semua kegiatan pelaksanaan konstruksi terdokumentasi, dari mulai FS desain sampai pelaksanaan. Artinya, nanti ketika kita review progres desain bisa terpantau lewat sistem,” paparnya.
Perjalanan Karier
Sejak awal lulus sarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2004, walaupun lulusan teknik sipil, Artan tidak pernah terpikir untuk masuk di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Karena dirinya saat itu sudah bekerja di perusahaan swasta, PT Siemens Indonesia, untuk pembangunan base transceiver station (BTS) sebagai Supervisor pada Supervisor Mechanical Electrical Contractor.
Namun, setelah lulus pascasarjana Manajemen Rekayasa Kontruksi di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2008, ketertarikan untuk bergabung ke Kementerian PUPR muncul ketika beberapa teman bercerita betapa sulitnya masuk ke sana.
“Jadi, motivasi masuk PU inisiatif sendiri. Tahun 2008 itu awal-awalnya wawancara generasi muda (genmud) Kementerian PUPR, banyak yang mengatakan untuk masuk ke sana itu sulit, bahkan ada yang harus sampai berkali-kali. Tiga kali sampai empat kali, tetapi tetap gagal,” ungkapnya bangga.
Akhirnya, tepatnya pada tahun itu pula, Artan resmi bergabung dan langsung ditempatkan di Direktorat Jenderal Bina Marga Direktorat Bina Program dan Anggaran sebagai Staf di Subdirektorat Program dan Anggaran (pada awal tahun 2009).
Kurang lebih tujuh tahun berdinas di pusat untuk pertama kalinya, tepatnya tahun 2015, Artan ditugaskan menjadi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di BBPJN Jawa Timur-Bali untuk menangani ruas Gresik-Lamongan-Babat-Tuban dan sempat pindah wilayah di PPK Surabaya menangani Arteri Dalam Kota Surabaya, Surabaya-Sidoarjo, dan Surabaya-Gersik.
Pada 2018, Artan dipercaya menjadi Kepala Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) di NTT. Kemudian pada 2022 dipindahtugaskan di P2JN BBPJN Sumut dan sejak Januari tahun 2023, Artan ditunjuk menjadi Kepala Bidang KPIJ di BBPJN Sumut.

Bagi anak pertama dari tiga bersaudara ini, bekerja adalah tanggung jawab yang harus dijalani seperti amanah.
“Harus selalu mengedepankan pesan orangtua agar selalu berusaha, terus berdoa menyerahkan semua hasilnya kepada Sang Maha Pencipta, dan terakhir kita harus pasrah serta berdoa, pasti diberikan yang terbaik buat saya,” paparnya, teringat pesan orangtuanya.
Tantangan yang dihadapi di Sumut adalah panjang jalan nasional terpanjang mencapai 2.619,32 km, dengan kondisi 91,51 persen mantap. Akan tetapi, lebar jalan masih banyak yang belum standar. Selain itu, juga banyak Direktif Presiden dan Menteri PUPR terkait pembangunan kawasan destinasi prioritas dan strategis nasional, seperti food estate, Nias, Liang Melas Datas (Kebun Jeruk), dan underpass Gatot Subroto dari Wali Kota Medan.
Keluarga
Harus terpisah bersama keluarga yang tinggal di DI Yogyakarta tidak membuatnya kesulitan untuk tetap bisa berkomunikasi. Artan mengatakan, kecanggihan teknologi sekarang ini sangat membantu dirinya bisa terus berkomunikasi dengan keluarga, terutama dengan istri dan keempat anaknya, yaitu Zara, Zetta, Zayn, dan Zizi.
“Biasanya, rutinitas saya untuk berkomunikasi dengan istri dan anak-anak lewat Whatsapp dan video call saat pagi dan malam sepulang kerja,” ungkap Artan, yang memiliki hobi gowes sebagai salah satu sarana yang dilakukan untuk selalu menjaga kesehatan.

Selain itu, juga dirinya rajin mengonsumsi resep-resep tradisional, seperti bawang tunggal yang dicelupkan ke madu hingga menjadi manisan madu. Itu ia konsumsi setidaknya dua siung sehari. Menurut Artan, dengan rutin mengonsumsi bawang tunggal pencernaan jadi lancar dan bisa menambah stamina.
Menurut Artan, pada zaman ini, teman-teman muda milenial atau Gen Z sepertinya memiliki gaya bekerja yang berbeda. Namun, istilah live in balance antara pekerjaan harusnya tidak mengurangi motivasi dalam bekerja.
“Saya memiliki pengalaman dari mulai menjadi staf hingga sekarang di KPIJ yang banyak lemburnya, tetapi tidak cukup hanya bekerja efisien, kalau pimpinan memberikan perintah kita harus selalu siap kapan saja dan selalu memberikan yang terbaik,” pungkasnya. (PAH)



















