Home Profil Moch S. Hendrowijono, Pensiunan Wartawan yang Tak Pernah Pensiun

Moch S. Hendrowijono, Pensiunan Wartawan yang Tak Pernah Pensiun

Share

Moch S. Hendrowijono, mantan wartawan Kompas itu juga dikenal sebagai pengamat transportasi dan telekomunikasi. Sekaligus ketua Masyarakat Pencinta Kereta Api. Hendrowijono sangat akrab disapa HW, merujuk pada inisialnya di harian Kompas.

Pria kelahiran Solo, 10 Maret 1945, itu dulunya bercita-cita menjadi pilot. Cita-cita itu pun kesampaian. Ia belajar menjadi pilot sehingga bisa menerbangkan pesawat-pesawat kecil.

“Saya pengin jadi pilot. Akhirnya kejadian jadi pilot, tetapi pilot olahraga saja,” kata HW.

Keinginan menjadi pilot itu berawal ketika ia masuk sekolah pilot di klub. Ia tidak sekolah pilot di sekolah penerbangan resmi. Ia juga pernah kursus pilot di Amerika Serikat agar menerbangkan pesawat mesin ganda.

Waktu itu, kata HW, anaknya juga menjadi pilot di maskapai penerbangan di Qatar. ”Jadi, anak saya beli pesawat kecil dan sudah pernah saya terbangkan di Pondok Cabe,” jelas ujarnya.

Bekerja di ”Kompas”

Jalan hidup manusia tak pernah bisa ditebak. HW yang ingin menjadi pilot berbelok menjadi wartawan.  Sebelum bekerja di Kompas, HW pernah memantapkan keterampilan jurnalistiknya di koran Indonesia Raya.

”Saya tiga tahun di Indonesia Raya. Lalu korannya ditutup. Ketika koran tersebut tutup, saya cuman menjadi penulis lepas di beberapa media,” katanya.

Pernsiunan wartawan Moch S. Hendrowijono diwawancarai oleh wartawan. | Dokumentasi Pribadi

Lalu, suatu kali ia bertemu dengan seorang temannya kebetulan bekerja di Kompas.

”Aku dengar kamu bekerja di Kompas? Apa mungkin aku bisa bekerja juga di Kompas. Aku kan Muslim. Situ kan Katolik, ya. Enggak mungkin,” kata HW ketika itu. Di benaknya, Kompas adalah media Katolik. Lebih-lebih sempat dipelesetkan bahwa Kompas adalah singkatan dari Komando Pastor.

Meskipun ada keraguan seperti itu, HW pun mencoba melamar di harian Kompas. ”Eh, saya langsung diterima. Karena, mereka punya target untuk menerima beberapa wartawan dari koran-koran yang cukup kredibel. Pada Tahun 1974, saya terus jadi wartawan.  Terus pernah ditugaskan ke Bandung. Lalu, ke Palembang menangani koran daerah,” ujar HW.

Diakui HW, menjadi wartawan itu enak. ”Undangan ke luar negeri bisa 4-10 kali dalam setahun. Kenikmatannya di situ. Namun, ironinya, waktu 1974, itu saya bisa menginap di hotel bintang 5, begitu pulang ke rumah, lampu masih pakai minyak tanah. Itu kontrasnya hidup kalau menjadi wartawan saat itu,” ujar HW.

Ia mengakui, Kompas memang memberinya jaminan hidup yang bagus. Bahkan, hingga sekarang, HW masih mendapat uang pensiunan dari Kompas.

Keliling Dunia

Ia juga pernah membantu media Singapura sebagai responden. Saya sebagai pencari bahan untuk wartawannya menulis. Tak terhitung lagi sejumlah media juga memintanya untuk berbagi pengalaman di bidang kewartawan.

Profesi menjadi wartawan itulah telah membawanya untuk keliling dunia. ”Saya bisa ke mana-mana dengan gratis. Pernah juga ke Eropa. Sudah pensiun juga masih suka diundang ke Beijing, Sensen,” ujarnya.

Anak bungsu dari dua bersaudara itu, meski sudah pensiun dari harian Kompas pada 2005, ia masih aktif menulis. Bahkan, HW diberi ruang untuk mengisi sebuah rubrik khusus transportasi dan telekomunikasi di portal berita Kompas.com hingga sekarang.

Meskipun sudah pensiun sebagai wartawan, ia tak pernah pensiun. Pengetahuannya di bidang transportasi dan telekomunikasi yang mumpuni membuat HW masih kerap menjadi narasumber di berbagai media kredibel hingga sekarang. (Agustinus Mendröfa)

Oleh:

Share

ARTIKEL TERKAIT