JAKARTA, LINTAS — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus berkomitmen mendukung pengelolaan sampah yang terpadu, tangguh, dan berkelanjutan. Targetnya tercapai pada tahun 2030.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, transformasi pengelolaan sampah menjadi energi bersih harus dipercepat. Sampah yang terus bertambah tiap hari menjadi tantangan serius bagi Indonesia.
Untuk itu, Kementerian PU aktif membangun fasilitas waste to energy (WTE) di sejumlah daerah. Prinsip 4R (reduce, reuse, recycle, recovery) juga didorong untuk diterapkan secara luas.
Langkah lain dilakukan melalui penyederhanaan regulasi, penyesuaian tarif listrik dari PLTSa, serta skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Tujuannya agar proyek-proyek tidak membebani APBN dan bisa menarik investor swasta.
Dalam forum ICI 2025 di Jakarta, Kamis (12/6/2025), Dirjen Cipta Karya Dewi Chomistriana menjelaskan pendekatan sistemik harus diterapkan. “Sampah jangan dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya,” tegasnya dikutip dari rilis pers, Sabtu (14/6).
Inovasi
Menurut Dewi, digitalisasi manajemen persampahan juga penting. Salah satunya melalui E-Sampah dan pemanfaatan Internet of Things (IoT). Teknologi ini akan meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan.
Ia mengungkapkan, saat ini baru 49 persen permukiman yang terlayani sistem pengangkutan sampah. Dari 137.000 ton sampah per hari, sebagian besar langsung masuk TPA tanpa pemilahan.




Karena itu, inovasi sangat dibutuhkan. Di antaranya, Smart Waste Tracking System, model RDF (Refuse Derived Fuel), hingga kolaborasi antarpelaku seperti extended producer responsibility (EPR).
Pendanaan juga harus kreatif. Selain KPBU, opsi business to business (B2B) dan kerja sama operasional (KSO) bisa digunakan. Ini penting untuk memperluas pembiayaan dan menciptakan iklim investasi.
“Kolaborasi dengan sektor swasta sangat penting. Kita perlu sistem pengelolaan sampah yang modern, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Dewi.
Kementerian PU juga menjalankan berbagai program. Untuk reguler, ada pembangunan TPA regional, TPS-3R, dan program Sanimas berbasis padat karya.
Sementara program khusus meliputi penggunaan plastik sebagai campuran aspal, pengembangan PLTSa, dan sistem RDF. Semua langkah ini ditujukan untuk menjadikan sampah sebagai sumber energi dan ekonomi masa depan. (HRZ)


























