Home Berita KNKT: Faktor Manusia Dominan dalam Kecelakaan Transportasi 2025

KNKT: Faktor Manusia Dominan dalam Kecelakaan Transportasi 2025

Share

JAKARTA, LINTAS – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat faktor manusia masih menjadi penyebab dominan dalam berbagai kecelakaan transportasi lintas moda yang diinvestigasi sepanjang 2025.

Temuan tersebut terlihat konsisten pada moda lalu lintas dan angkutan jalan, pelayaran, hingga penerbangan, meskipun masing-masing memiliki karakter risiko yang berbeda.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, kontribusi faktor manusia masih menempati porsi terbesar dalam sejumlah kecelakaan, mulai dari kelelahan, kelalaian, hingga ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.

“Dalam banyak kasus, faktor manusia masih menjadi kontribusi terbesar, baik terkait kelelahan, kelalaian, maupun ketidakpatuhan terhadap prosedur keselamatan,” ujar Soerjanto dalam acara Media Rilis Capaian Kinerja KNKT 2025 di Jakarta, Rabu (28/1/2026) dikutip dari Antara.

Kegagalan Sistem Pengereman

Pada moda lalu lintas dan angkutan jalan, KNKT menginvestigasi sembilan kecelakaan sepanjang 2025 dengan jumlah korban luka mencapai 69 orang. Dari hasil investigasi, KNKT mencatat kegagalan sistem pengereman atau yang dikenal masyarakat sebagai “rem blong” masih menjadi pola berulang, terutama pada kendaraan angkutan umum dan angkutan barang.

Selain itu, pengawasan terhadap kondisi kendaraan dan pemenuhan administrasi keselamatan dinilai belum berjalan optimal, termasuk pelaksanaan uji kelayakan kendaraan secara berkala.

Investigator Lalu Lintas dan Angkutan Jalan KNKT Dwi Bakti Permana mengungkapkan banyak kecelakaan melibatkan kendaraan dengan kondisi teknis yang tidak layak jalan.

“Kami menemukan kendaraan yang tidak memenuhi uji berkala, bahkan ada dokumen kelulusan uji yang keasliannya diragukan,” kata Dwi.

Kecelakaan Serius

Di sektor pelayaran, KNKT mencatat delapan investigasi kecelakaan sepanjang 2025. Mayoritas kasus tersebut masuk dalam kategori kecelakaan serius, seperti kapal tenggelam dan kapal terbakar.

KNKT juga kembali menemukan persoalan kelebihan muatan kapal atau overdraft, serta lemahnya pencatatan penumpang dalam daftar manifes sebagai temuan berulang dalam investigasi kecelakaan pelayaran.

Pelaksana Tugas Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT Capt. Anggiat PTP Pandiangan menegaskan kondisi tersebut sangat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat kapal beroperasi dalam cuaca buruk.

“Ketika muatan melebihi batas aman dan stabilitas kapal terganggu, risiko kecelakaan akan meningkat tajam,” ujar Anggiat.

Kelelahan Awak Pesawat

Sementara itu, pada moda penerbangan, KNKT mencatat 19 investigasi sepanjang 2025 yang terdiri atas sembilan kecelakaan dan 10 kejadian serius. Jenis kejadian terbanyak adalah runway excursion, yaitu kondisi ketika pesawat tidak mampu berhenti di landasan pacu.

KNKT juga mengidentifikasi kelelahan awak pesawat serta belum optimalnya penerapan prosedur operasional standar sebagai isu keselamatan yang masih perlu mendapat perhatian serius.

Secara keseluruhan, sepanjang periode 2015–2025 KNKT telah mengeluarkan sedikitnya 1.481 rekomendasi keselamatan lintas moda. Rekomendasi tersebut sebagian besar berkaitan dengan aspek pengendalian dan pengawasan sistem transportasi.

KNKT menegaskan seluruh rekomendasi keselamatan tersebut bertujuan untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa, bukan untuk mencari atau menetapkan kesalahan pihak tertentu.

Komite juga mengimbau seluruh pemangku kepentingan transportasi, mulai dari operator, regulator, hingga pemerintah daerah, untuk menindaklanjuti rekomendasi keselamatan secara konsisten.

“Investigasi KNKT berorientasi pada pembelajaran dan pencegahan, agar sistem transportasi nasional semakin berkeselamatan,” tutur Soerjanto. (*/CHI)

Baca Juga: Stasiun Jatake Perkuat Konektivitas BSD City dan Mobilitas Masyarakat Tangerang

Oleh:

Share