JAKARTA, LINTAS – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong penerapan Seamless Travel Journey berbasis biometrik untuk membuat perjalanan penumpang di bandar udara lebih sederhana dan terintegrasi.
Teknologi tersebut diarahkan untuk mengurangi proses berulang, dengan tetap menjaga keamanan penerbangan dan perlindungan data pribadi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Achmad Setiyo Prabowo, mengatakan penerapan teknologi dalam pelayanan bandara tidak boleh mengurangi standar keamanan penerbangan maupun perlindungan terhadap data masyarakat.
“Seamless bukan berarti mengurangi keamanan. Justru teknologi harus kita manfaatkan untuk memberikan pelayanan yang lebih mudah dan efisien, dengan tetap menjaga standar keamanan penerbangan serta melindungi data pribadi masyarakat,” kata Achmad dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Seamless Travel Journey Berbasis Biometrik dalam rangka Keterpaduan Pelayanan Publik Bandar Udara di Tangerang, Rabu (7/10/2026).


Memberi Manfaat ke Masyarakat
FGD yang digelar Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, penyelenggara bandar udara, maskapai penerbangan, serta asosiasi pengguna jasa.
Forum ini membahas penerapan layanan perjalanan penumpang yang lebih terpadu melalui pemanfaatan teknologi biometrik, termasuk pengenalan wajah.
Achmad menjelaskan, penerapan biometrik bukan semata soal penyediaan perangkat teknologi. Sistem tersebut perlu ditopang tata kelola yang jelas, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, serta pembagian tanggung jawab antarinstansi dan penyelenggara layanan.
“Yang paling penting adalah bagaimana teknologi ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penumpang tidak perlu melalui proses yang berulang, tetapi di sisi lain seluruh aspek keamanan, perlindungan data, dan ketentuan yang berlaku tetap harus dipenuhi,” kata Achmad.
Melalui konsep Seamless Travel Journey, identitas penumpang dapat digunakan secara lebih terintegrasi pada sejumlah tahapan perjalanan di bandar udara.
Pemanfaatan biometrik diharapkan membuat proses pemeriksaan dan pelayanan berlangsung lebih praktis tanpa menghilangkan prosedur yang berkaitan dengan keselamatan dan keamanan penerbangan.
Kerja Sama Lintas Pihak
Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama, Putu Eka Cahyadhi, mengatakan perjalanan penumpang di bandara melibatkan banyak instansi dan penyedia layanan. Karena itu, penerapan konsep seamless membutuhkan kerja sama lintas pihak.
“Seamless Travel Journey bukan hanya tentang teknologi biometrik, tetapi bagaimana seluruh layanan di bandar udara dapat berjalan secara lebih terpadu. Karena itu, diperlukan kolaborasi agar teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat,” ujar Putu.
Menurut Putu, FGD tersebut menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman mengenai penerapan Seamless Travel Journey secara bertahap. Implementasinya tetap harus mengacu pada ketentuan yang berlaku, termasuk aspek keamanan penerbangan dan perlindungan data pribadi.
“Harapannya, penumpang dapat merasakan proses perjalanan yang lebih simple dan nyaman, sementara keamanan penerbangan, perlindungan data pribadi, dan kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas,” katanya.
Kemenhub selanjutnya mendorong kolaborasi antara pemerintah, pengelola bandara, maskapai, dan pihak terkait dalam menyiapkan layanan berbasis teknologi. (CHI)












