JAKARTA, LINTAS – Kementerian Perhubungan diminta untuk segera mengevakuasi bangkai kapal tanker MT AASHI berbendera Gabon yang karam di perairan Nias Utara, Sumatera Utara. Keberadaan bangkai kapal itu sangat mengganggu nelayan terlebih ancaman kerusakan biota laut yang sudah memprihatinkan akibat muatan aspal yag tumpah dan masih tersimpan di dalam kapal.
Demikian disampaikan Wakil Bupati Nias Utara Yusman Zega, kepada Lintas, Senin (7/11/2023).
“Kepada Kementerian Perhubungan dan instansi terkait lainnya di pusat agar segera mengangkat bangkai kapal karam ini. Sebab, sudah sangat mengganggu aktivitas nelayan di Nias Utara. Tidak hanya itu, ini bisa menjadi bom waktu karena kapal karam itu masih memuat aspal dan belum seluruhnya tumpah ke laut,” kata Yusman.
Lintas yang mencoba menanyakan hal ini kepada Kementerian Perhubungan, pesan Whatsapp dari Lintas hingga berita ini ditayangkan belum direspons.
Kapal bermuatan aspal sebanyak 3.595 metrik ton diketahui bertolak dari Pelabuhan Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, Kamis, 19 Januari 2023, menuju Sibolga dan Padang, dan karam pada Sabtu, 11 Februari 2023, di perairan Desa Faekhuna’a Kecamatan Afulu, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara.
Dampak karamnya kapal dengan panjang 101,9 meter dan lebar 16 meter dan mengangkut 22 anak buah kapal berkebangsaan India ini, aspal tumpah dan mencemari laut hingga radius 70 kilometer. Menurut ABK, kapal alami bocor lambung sebelum karam.
Kerugian
Ditambahkan Yusman, dari analisis dan kalkulasi kerugian yang diakibatkan tumpahan aspal ini untuk kerugian masyarakat sekitar Rp 8 miliar-Rp 9 miliar dan kerusakan lingkungan mendekati angka Rp 120 miliar. Untuk mengembalikan kondisi normal terumbu karang memerlukan waktu beberapa puluh tahun, untuk tumbuhnya terumbu karang 1 cm saja butuh waktu 1 tahun.
“Sebagai pemerintah daerah, kami hanya bergantung dan berharap langkah dan kebijakan dari pusat. Kami tidak bosan-bosan terus menghubungi, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan kementerian lainnya, karena mereka yang paling bertanggung jawab dan mereka selalu memberi harapan. Bahkan, katanya, 14 November ini akan ada pembicaraan dengan pihak asuransi,” kata Yusman.
Kepala Dinas Perikanan Nias Utara Sabar Jaya Telaumbanua, kepada Lintas, Selasa (7/1/2023), mengaku sangat prihatin dengan dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran aspal ini.
“Terumbu karang yang rusak sudah sangat memprihatinkan. Nelayan sudah tidak bisa melaut karena hasil tangkapan tidak ada. Bahkan, alat tangkap nelayan pada rusak karena yang didapat bukan ikan tetapi aspal,” ujar Sabar.
Baik Yusman maupun Sabar mengharapkan ada segera perhatian dari pusat untuk melakukan evakuasi kapal serta memberi kompensasi kepada nelayan dan terhadap kerusakan lingkungan. Pihaknya mengapresiasi semua pihak, kementerian dan lembaga, bahkan organisasi pencinta lingkungan, yang terus mengawal masalah ini.
“Kami bahkan sudah menyampaikan surat kepada Presiden. Kami yakin Presiden tidak akan diam apalagi terhadap nasib nelayan dan keluarga mereka,” kata Sabar.
Informasi yang diterima Lintas, hingga sekarang masih berlangsung pembersihan dan pengangkatan aspal. (HRZ)
Baca Juga: SPAM IKK Lotu Mulai Dibangun, Bupati Nias Utara: Terima Kasih Kementerian PUPR



















