JAKARTA, LINTAS – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian pemerintah pada Minggu (6/9/2026). Selain memicu suara dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Barat, abu vulkanik kini terpantau menyebar ke lima provinsi, termasuk DKI Jakarta.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menuju Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Arah penyebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin.
Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, sebelumnya menjelaskan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau disertai semburan lava pijar, suara gemuruh, dan dentuman. Aktivitas tersebut mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berlangsung lebih dari 24 jam sebelum aktivitas erupsi menerus tersebut berhenti pada 6 September sekitar pukul 00.04 WIB.
Dalam konferensi pers bertajuk Update Situasi Terkini, Evaluasi Mitigasi Geologi, dan Dampak Sektor Transportasi Pasca Erupsi, Lana menjelaskan bahwa aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang. Erupsi sebelumnya terjadi pada 22 Desember 2018 dan menghasilkan longsoran serta tsunami.
Abu Vulkanik Capai Jakarta
BMKG mengintensifkan pemantauan terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik.
“Klaster pertama terpantau menuju Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat dengan ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki. Sementara klaster lainnya mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki dan mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu serta wilayah perairan di sekitarnya,” ujar Lana.
Kondisi tersebut membuat abu vulkanik berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun penerbangan. Sejumlah bandara bahkan mengalami gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Badan Geologi: Tidak Berpotensi Tsunami
Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi memastikan erupsi yang terjadi saat ini tidak menunjukkan potensi memicu tsunami.
Lana menjelaskan, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan peristiwa 22 Desember 2018. Berdasarkan hasil evaluasi terbaru, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan belum menunjukkan kondisi yang berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
“Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif. Masyarakat, khususnya yang berada di sekitar Selat Sunda, diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi,” kata Lana.
Warga Diminta Waspada Abu Vulkanik
Badan Geologi dan BMKG mengimbau masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker guna melindungi saluran pernapasan.
“Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, dan instansi terkait,” tambah Lana.
Sementara itu, rekomendasi keselamatan tetap berlaku. Masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pihak lainnya tidak diperbolehkan mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran material vulkanik, lava, awan panas, serta hujan abu.
Dengan perkembangan sebaran abu yang dapat berubah mengikuti kondisi angin, masyarakat diminta terus memantau informasi terbaru, terutama mereka yang berada di Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung dan Bengkulu. (CHI)
Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau, Enam Bandara Terdampak dan Soekarno-Hatta Ditutup hingga 17.30 WIB












