JAKARTA, LINTAS — Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan mentargetkan seluruh bandara, maskapai, dan pelaku industri aviasi di Indonesia memiliki kemampuan menghitung emisi karbon secara mandiri paling lambat pada 2027.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rohman, mengungkapkan hal tersebut dalam acara Press Background di Kemenhub, Kamis (23/10/2025). Ia menekankan pentingnya langkah konkret pengendalian emisi di tengah peningkatan aktivitas penerbangan pascapandemi.
“Dulu kita tidak punya cara menghitung emisi karbon. Sekarang kami sudah punya formulanya. Target kami, pada 2027 semua bandara, airline, dan stakeholder di sektor udara harus punya kemampuan menghitung dan melaporkan emisinya,” ujar Sokhib.
Efisiensi Energi dan Program Eco Airport
Sokhib menjelaskan, sejumlah inisiatif tengah berjalan untuk menekan emisi gas rumah kaca di sektor penerbangan. Salah satunya melalui program Eco Airport yang fokus pada efisiensi energi dan penggunaan energi terbarukan di bandara.
Hingga kini, tercatat 106 bandara dan tiga kantor otoritas bandara sudah memanfaatkan penerangan jalan berbasis solar power lighting, sementara 18 bandara telah menggunakan sistem lampu LED penuh.
“Dari penggunaan solar cell dan LED ini, kita sudah menghemat puluhan ribu ton CO₂ per tahun,” jelasnya.
Selain itu, beberapa bandara juga mulai menggunakan panel surya dan beralih ke energi terbarukan untuk kebutuhan operasional harian. Kemenhub juga menyoroti pengelolaan limbah di bandara yang semakin penting seiring meningkatnya pergerakan penumpang. Rata-rata terdapat 85 ribu penumpang per hari di seluruh bandara di Indonesia, menghasilkan volume limbah yang besar.
Sokhib mencontohkan praktik pengelolaan sampah di Jepang yang patut ditiru, di mana setiap sampah dari penerbangan internasional wajib dikembalikan ke negara asal dan tidak boleh ditinggalkan di bandara Jepang.
“Kita ingin meniru sistem seperti di Jepang, agar bandara tidak menjadi tempat penumpukan limbah internasional,” ujarnya.
Bioavtur dan Minyak Jelantah
Langkah signifikan lainnya, menurut Sokhib adalah pengembangan bahan bakar berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Indonesia kini mulai menggunakan bioavtur hasil campuran dengan minyak jelantah (used cooking oil).
Pertamina telah meluncurkan program pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat melalui beberapa SPBU. Minyak tersebut kemudian diolah di Kilang Cilacap dan dicampur dengan bahan bakar avtur konvensional hingga menghasilkan campuran bioavtur 1%.
“Kita punya potensi besar karena masyarakat Indonesia gemar menggoreng. Dari minyak jelantah ini kita bisa hasilkan bahan bakar ramah lingkungan bahkan untuk ekspor,” kata Sokhib.
Baca Juga: Kemenhub Gelar Program Mudik Gratis Nataru 2025/2026
Ia menambahkan, penggunaan bahan bakar berkelanjutan menjadi penting karena sejumlah negara, seperti Belanda, akan menerapkan aturan ketat mulai tahun depan. Maskapai yang tidak menggunakan SAF akan dikenakan carbon tax untuk penerbangan internasional. (CHI)



















