Setiap akhir tahun tiba, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh warga di ibu kota negara, DKI Jakarta, adalah bersiap menghadapi musim hujan.
Memang, hingga awal November 2023, masih belum ada tanda-tanda akan mulainya musim hujan. Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), prediksi awal musim hujan 2023/2024 diperkirakan akan dimulai pada November hingga Desember 2023, dengan puncaknya pada Januari dan Februari 2024 sebanyak 385 wilayah zona musim (ZOM).
Sebagai rekomendasi untuk menghadapi Musim Hujan 2023/2024, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologis.
BMKG memberikan gambaran lengkap tentang perubahan cuaca dan iklim di Indonesia dan menekankan pentingnya persiapan dan mitigasi bencana dalam menghadapi perubahan cuaca yang dinamis.
Peringatan ini memang perlu diperhatikan oleh pemangku kepentingan di daerah-daerah yang “langganan” banjir, termasuk DKI Jakarta.
Pengamatan Lintas, kondisi berbeda terjadi di daerah seperti Sumatera. Ada banyak kontraktor yang sedang mengerjakan berbagai proyek pemerintah, seperti pembangunan jalan, terganggu karena di Pulau Sumatera sudah memasuki musim hujan.
Bahkan, dari sejumlah keluhan yang diterima Lintas, para pelaksana proyek Inpres Jalan Daerah (IJD) tak sedikit yang mengaku khawatir pekerjaan tidak bisa selesai tepat waktu karena terkendala hujan. Kita tahu, IJD tahap 1 mesti rampung pada Desember 2023.
Baca Juga: Progres Jalan IJD Kolang-Watas Taput 61 Persen, Empat Titik Longsor Jadi Perhatian
Berbeda dengan yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Hujan merupakan sesuatu yang begitu dinanti hari-hari ini. Hujan dipandang sebagaii solusi pemberi kesejukan dan mengurangi dampak polusi yang sedang melanda DKI Jakarta.
Kota Jakarta, ibu kota Indonesia, terkenal dengan banjir musiman yang sering terjadi selama musim hujan. Dari penelusuran Lintas, banjir terbesar yang pernah terjadi di Jakarta adalah pada 1996. Tepatnya pada 9-11 Februari 1996, banjir besar melanda sebagian besar Jakarta dengan ketinggian air di beberapa kawasan mencapai 7 meter. Akibat banjir besar tersebut, ada 529 rumah hanyut, 398 rumah rusak, dan sedikitnya 20 orang tewas. Selain itu, ada sekitar 30.000 orang yang terpaksa harus mengungsi. Kerugian dari banjir tersebut mencapai 435 juta dollar AS.
Belajar dari berbagai bencana banjir ini, baik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pemerintah pusat, terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak banjir dan mempersiapkan kota ini menghadapi musim hujan.
Pembersihan Sungai
Seperti diketahui, ada 13 sungai mengalir di berbagai tempat di Kota Jakarta. Keberadaan 13 sungai harus dipastikan kondisinya baik. Upaya normalisasi sungai pun terus dilakukan. Pemerintah DKI Jakarta telah menurunkan 54 ekskavator untuk membersihkan sedimen dan sampah di 13 sungai.
Selain itu, program “Grebek Lumpur” juga telah dilakukan di area-area yang rawan banjir, seperti Kali Krukut, Kali Sunter, Kali Mookevart, dan Waduk Munjul. Pembersihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas daya tampung air dan mencegah banjir.
Baca Juga: Ini 13 Sungai yang Harus Ditangani untuk Mengatasi Banjir di Jakarta (Bagian 1)
Penyelesaian Sodetan Ciliwung juga merupakan bagian penting dari upaya pemerintah. Sodetan ini berfungsi untuk mengalihkan aliran air dari Sungai Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) sehingga dapat mengurangi volume air yang masuk ke Jakarta. Proyek ini telah selesai pada tahun 2023 setelah dikerjakan selama 11 tahun.

Presiden Jokowi, saat meresmikan sodetan ini, mengklaim bahwa Sodetan Ciliwung akan mengurangi banjir di Jakarta hingga 62 persen. Musim hujan tahun ini menjadi pembuktian efektivitas Sodetan Ciliwung.
Baca Juga: Sodetan Ciliwung Diresmikan, 62 Persen Persoalan Banjir Jakarta Tertangani
Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi
Selain itu, pemerintah juga telah membangun Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kedua bendungan ini merupakan bendungan kering pertama di Indonesia dan dirancang khusus untuk mengendalikan banjir, utamanya volume air yang selama ini “dikirim” di Jakarta.
Bendungan Sukamahi memiliki daya tampung 1,68 juta meter kubik dan dapat mereduksi banjir sebesar 15,47 m³/detik.
Dengan berbagai upaya ini, kita berharap berharap dapat mengurangi dampak banjir di Jakarta selama musim hujan.
Meskipun demikian, masyarakat juga diharapkan untuk turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan dan sungai agar upaya-upaya ini dapat berjalan dengan efektif.
Ada potensi banjir saat musim hujan di DKI. Hukum alam ini hendaknya disikapi dengan berbagai kebijaksanaan dan persiapan yang matang. Berbagai keperluan dan peralatan yang dibutuhkan, seperti payung, jas hujan, dan lainnya, hendaknya menjadi perhatian. (Harazaki)