JAKARTA, LINTAS — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung penanganan bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan proses penanganan darurat dan evakuasi korban berjalan optimal.
Bencana longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB akibat hujan dengan intensitas tinggi. Longsor melanda kawasan Kampung Pasirkuning RT 05/11 dan Kampung Pasirkuda RT 01/10, menyebabkan puluhan rumah tertimbun material tanah dan batuan.
Dody menginstruksikan seluruh balai teknis Kementerian PU di Jawa Barat untuk terus siaga dan memberikan dukungan penuh dalam penanganan darurat serta proses evakuasi yang masih berlangsung.
“Fokus utama saat ini adalah membantu penanganan darurat dan mendukung proses evakuasi yang dilakukan Basarnas dan tim SAR gabungan, termasuk dengan menyiagakan alat berat serta sarana pendukung lainnya,” ujar Dody di lokasi.
BWS Diminta Lakukan Kajian Teknis
Selain penanganan darurat, Ia juga meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum untuk segera melakukan kajian teknis menyeluruh terhadap sistem aliran air dari hulu di kawasan Gunung Burangrang hingga ke wilayah hilir. Langkah ini dinilai penting untuk mengendalikan aliran air dan mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.


“Sementara untuk relokasi warga terdampak, akan kami diskusikan lebih lanjut bersama pemerintah daerah guna menentukan lokasi terbaik dan paling aman,” tambahnya.
Untuk mendukung upaya evakuasi, Kementerian PU melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta–Jawa Barat telah mengerahkan tiga unit excavator PC 75 yang saat ini standby di lokasi, serta memobilisasi tiga unit excavator PC 75 tambahan.
BBWS Citarum juga menyiagakan satu unit excavator PC 200 di lokasi dan memobilisasi satu unit excavator PC 55. Dukungan tambahan datang dari BBWS Cimanuk Cisanggarung dengan mengerahkan satu unit excavator PC 55.
Alat Berat Mulai Dioperasikan
Kepala BBWS Citarum Marasi Deon Joubert menjelaskan, dari total sembilan unit alat berat yang dikerahkan, enam unit telah berada di lokasi.
“Sebagian alat berat sudah mulai dioperasikan untuk membantu evakuasi. Namun, karena terjadi longsor susulan, sementara alat diminta untuk standby sambil menunggu arahan lebih lanjut dari Basarnas,” ujarnya.
Selain alat berat, Kementerian PU juga memberikan dukungan sarana dasar bagi para pengungsi. Tim Tanggap Darurat Air dan Sanitasi (TARAT) Direktorat Cipta Karya Jawa Barat telah berada di lokasi pengungsian untuk melakukan koordinasi kebutuhan air bersih dan sanitasi.
Dukungan yang disalurkan meliputi dua unit toilet portabel, dua unit tangki air berkapasitas 4.000 liter, serta dua unit hidran umum berkapasitas 2.000 liter yang ditempatkan di sekitar lokasi terdampak dan posko terpadu.

Longsoran dari Lereng Kaki Gunung Burangrang
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan, material longsoran berasal dari lereng kaki Gunung Burangrang yang runtuh akibat hujan deras yang terjadi secara berturut-turut. Material tersebut terbawa aliran air deras hingga menghantam kawasan permukiman warga.
“Kondisi tanah di lokasi masih sangat labil dengan kadar air yang tinggi, sehingga proses evakuasi dilakukan secara hati-hati dan bertahap untuk menghindari risiko longsor susulan,” kata Syafii.
Ia menambahkan, penggunaan alat berat mulai dilakukan secara selektif di beberapa sektor pencarian. “Hari ini kita sudah mulai menggunakan alat berat di titik-titik tertentu. Mudah-mudahan ini dapat mempercepat proses penemuan korban,” ujarnya. (*/CHI)
Baca Juga: Wapres Gibran Tinjau Lokasi Longsor di Bandung Barat, Pemkab Tetapkan Status Darurat Bencana





