Jakarta, Lintas – Wacana impor kereta rel listrik (KRL) dari Jepang masih menjadi polemik. PT Kereta Commuter Indonesia meminta karena sejumlah kereta tak bisa lagi digunakan, sementara pemerintah belum satu suara.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan PT Kereta Api Indonesia mendukung, sedangkan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menolak opsi tersebut.
Alasannya, kajian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tak menyarankan impor dilakukan saat ini.
Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menyarankan pemerintah menggunakan sistem sandwich.
Artinya, membagi kebutuhan KRL dengan melakukan impor kereta bekas dan membagi produksinya ke PT Industri Kereta Api (INKA).
“Jika kebutuhan PT KCI 10 rangkaian (trainset) per tahun, maka diadakan (impor) sarana KRL bekas sebanyak 8 rangkaian, kemudian PT Inka diberikan porsi membuat dua rangkaian baru,” ujar Djoko pada majalahlintas, Jumat (16/6/2023).
Ia menjelaskan, mekanisme itu patut dijajal sebagai jalan keluar. Pasalnya, tanpa impor, jumlah kereta berkurang dan menyebabkan penumpukan penumpang.

Namun, jika impor dilakukan sepenuhnya, produksi kereta dalam negeri bakal macet karena PT Inka tak pernah mendapatkan pesanan.
Menaikkan Jumlah Produksi
Tak hanya itu, saat ini PT Inka juga belum bisa memproduksi kereta dalam waktu cepat.
“PT Inka pun juga tidak akan bisa memenuhi kebutuhan, misalnya 10 rangkaian dalam setahun, karena masa produksi memerlukan waktu yang cukup,” tutur dia.
Dengan kebijakan sandwich, lanjut Djoko, pemerintah bisa menaikkan jumlah produksi PT Inka secara bertahap.
Tapi, di sisi lain, juga tidak mengorbankan kenyamanan penumpang karena jumlah kereta yang mencukupi.
Langkah tersebut juga bisa membuat kualitas produksi kereta dalam negeri mengalami peningkatan.
“Keuntungannya setiap tahun PT Inka akan memperoleh order produksi sarana KRL baru dan kebutuhan operasi sarana KRL oleh PT KCI terpenuhi,” ucapnya.
“Dengan memproduksi secara rutin sarana KRL setiap tahun, maka diharapkan kualitas produksi PT Inka juga semakin baik,” ujarnya. (TNO)

































