Semarang, Lintas – Dalam pelaksanaan pembangunan Bendungan Jragung di Semarang, kontraktor diharapkan memperhatikan kualitas, estetika, dan keberlanjutan. Kondisi geologi juga perlu diperhatikan sehingga bisa menggunakan metodologi konstruksi yang tepat.
Hal itu ditekankan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, saat meninjau progres pembangunan Bendungan Jragung di Kabupaten Semarang, Jumat (19/5/2023).
“Tolong perhatikan teknis geologinya dalam pelaksanaan pembangunan. Hati-hati dengan kondisi pasir di atas lempung, waspadai jika terjadi longsor. Metodologi konstruksinya juga harus hati-hati,” kata Menteri Basuki dikutip dari rilis, Jumat.
Ditambahkan Menteri Basuki, untuk menjaga kondisi lingkungan, dalam pelaksanaan pembangunan diusahakan untuk tidak banyak menebang pohon. “Lahan hutan yang tidak kena bagian pembangunan jangan ditebang, estetikanya harus rapi dan bersih, begitu selesai pekerjaan bersih dari sisa-sisa material,” ujarnya.

Menteri Basuki juga berpesan kepada para kontraktor pelaksana dan konsultan pengawas untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan pembangunan Bendungan Jragung sehingga dapat selesai tepat waktu.
“Saat ini dengan progres konstruksi sebesar 30 persen, agar semua kontraktor pelaksana yang ada dapat bekerja sama dengan baik. Meskipun berbeda paket pekerjaan, namun semua satu tim dalam pembangunan Bendungan Jragung,” kata Basuki.
Sumber Air Baku
Bendungan Jragung dengan kapasitas tampung 90 juta meter kubik, utamanya akan bermanfaat sebagai sumber air baku bagi wilayah Kota Semarang sebesar 500 liter/detik, Kabupaten Grobogan 250 liter/detik, dan Kabupaten Demak 250 liter/detik. Kemudian menyuplai air bagi daerah irigasi jragung seluas 4.528 hektar di Kabupaten Demak.
Kontrak pembangunan Bendungan Jragung ditandatangani pada akhir 2020. Mulai konstruksi pada pertengahan 2021 setelah proses penyiapan lahan. Pekerjaan Pembangunan Bendungan Jragung terdiri dari 3 paket pekerjaan dengan lingkup pekerjaan Paket I dan II berupa pekerjaan galian dan timbunan main dam, pelindungan tebing, drilling dan grouting. Sementara Paket III meliputi pekerjaan jalan akses, pengelak sungai, bangunan pelimpah (spillway). Termasuk pekerjaan lain-lain seperti bangunan fasilitas umum (fasum) dan relokasi SUTET 500kV.

Paket I dikerjakan oleh penyedia jasa PT Waskita Karya dengan nilai kontrak Rp 806,3 miliar. Progres fisik mencapai 18,12 persen. Paket II dikerjakan oleh PT Wijaya Karya-PT BRP (KSO) dengan nilai kontrak Rp 758 miliar. Progres 28,07 persen. Adapun Paket III dikerjakan PT Brantas Abipraya-PT Pelita Nusa Perkasa (KSO) senilai Rp 735,9 miliar. Progres fisik 45,06 persen. (HRZ)



















