Bencana kembali terjadi di Sumatera Barat. Setelah didera berbagai bencana seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor kini diterpa bencana banjir lahar dingin yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai galodo. Bencana galodo sebagai dampak susulan setelah terjadi erupsi Gunung Marapi.
Dengan kerap mengalami bencana alam dipastikan manusia secara naluriah akan menyiapkan berbagai cara untuk menghadapi dan mengantisipasi bila bencana datang kembali.
Memang, bencana tak dapat ditolak kedatangannya. Oleh karena itu, dituntut kesiapsiagaan menghadapi bencana. Karena terjadi berulang-ulang, risiko dampak bencana tentu sudah dianalisis dan dipetakan dalam beberapak skenario kejadian.
Bencana yang kerap terjadi berulang-ulang di lokasi/kawasan yang sama tentu dapat diantisipasi melalui mitigasi bencana yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Mitigasi bencana dapat berupa mitigasi struktural maupun nonstruktural.
Mitigasi struktural terkait dengan pembangunan fisik sedang mitigasi nonstruktural seperti mitigasi tata ruang, penyiapan regulasi, pemetaan zona/kawasan rawan bencana, sosialisasi dan lainnya.
Tujuan utama mitigasi adalah untuk pencegahan atau setidaknya mengurang risiko timbulnya korban jiwa dan kerusakan harta benda bila terjadi bencana.
Memetik Pengalaman
Menyimak pelajaran yang bisa diambil dari mitigasi bencana banjir lahar dingin maupun panas di Gunung Merapi (wilayah Jawa Tengah dan Yogjakarta) yang telah banyak pula menelan korban jiwa, pemerintah begitu sigap melakukan mitigasi secara komprehensif untuk mencegah atau mengurangi risiko akibat dampak terjadinya banjir lahar dingin maupun panas yang dimuntahkan akibat erupsi Gunung Merapi.
Salah satu antisipasinya, yakni melalui mitigasi struktural dengan membangun ratusan (277) sabo dam di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Sementara di Gunung Marapi, Sumatera Barat, baru terbangun 2 unit sabo dam.
Menurut keterangan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang, Sumatera Barat, Mochammad Dian Alma’ruf, Kamis (16/5/2024), “Dari 25 sungai yang berhulu di Gunung Marapi 18 sungai di antaranya berpotensi mengalirkan lahar dingin sehingga di sungai-sungai tersebut akan dibangun sabo dam. Saat ini di Gunung Marapi baru terbangun 2 unit sabo dam dengan kapasitas total 20.000 meter kubik. Tahun ini sedang dalam usulan proses desain sabo dam yang diharapkan dapat terbangun konstruksinya pada tahun 2025-2026.”

Sabo Dam
Sabo atau bendung merupakan suatu sistem pengendalian bencana alam aliran yang membawa endapan, seperti banjir bandang, aliran material vulkanik, dan pergerakan tanah yang dibangun pada jalur aliran di pegunungan (Wikipedia).
Sabo dam tidak hanya berfungsi sebagai pengendali bencana lahar, tetapi juga sebagai jembatan penghubung bagi penduduk setempat.
Dengan membangun sabo dam dalam jumlah yang cukup di sungai-sungai yang berhulu di kawasan pegunungan yang aktif akan mencegah atau mengurang risiko dampak aliran hujan yang membawa material lava dari hasil muntahan gunung berapi ketika erupsi Melalui pemetaan kawasan kawah gunung berapi, volume material lava yang keluar dapat dihitung besarannya.
Dengan diketahuinya volume material lava yang menumpuk di kawasan puncak gunung, pembangunan sabo dam dapat disesuaikan kapasitasnya untuk dapat menampung aliran material lava yang akan terbawa oleh hujan ke bagian hilir. Penempatan lokasi sabo dam umumnya dibangun di sungai yang jauh dari permukiman penduduk dan di bagian hulu sehingga terhindar dari terjangan aliran lahar dingin karena tertahan oleh adanya sabo dam.

Dengan jumlah sabo dam yang dimiliki Gunung Marapi di Sumatera Barat yang terbatas sangatlah jauh dari cukup untuk bisa menampung aliran lahar dingin yang volumenya jutaan meter kubik. Adapun Kementerian PUPR, seperti diberitakan media massa, mengusulkan tambahan pembangunan 25 sabo dam di Gunung Marapi.
Baca Juga: Kementerian PUPR Kerahkan Alat Berat Tangani Banjir Lahar Dingin di Sumbar
Akibatnya, yang terjadi aliran lahar dingin meluap dan meluber keluar alur sungai menghantam kawasan permukiman dan berbagai fasilitas umum dan lainnya. Tidak hanya material lava berupa batuan dan pasir yang terbawa aliran air, tetapi juga pohon-pohon dan kayu di hutan yang tumbang akibat tertimbun material hasil erupsi.
Pelajaran yang bisa dipetik dari bencana Gunung Marapi ini adalah kesungguhan dan keberlanjutan menyiapkan mitigasi bencana baik struktural maupun nonstruktural oleh instansi terkait sesuai kewenanngannya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi datangnya bencana yang seharusnya bisa diantisipasi. (MAL)
Baca Juga: Ketika Hujan Jadi “Kambing Hitam” Penyebab Banjir





