Jakarta, Lintas – Pembangunan hunian tetap bagi korban bencana dapat selesai dalam waktu 3 bulan. Ini karena metode knock down/merangkai komponen yang relatif cepat dalam mendirikan rumah instan sederhana sehat (risha). Seperti pada pembangunan hunian tetap bagi korban longsor di Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Hal itu disampaikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dikutip Rabu (26/4/2023).
Menurut Basuki, prioritas penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana longsor adalah relokasi permukiman warga. Relokasi dilakukan melalui pembangunan hunian tetap. Lahan disediakan oleh pemerintah daerah.
Dijelaskan, pembangunan hunian tetap dengan teknologi rumah khusus tahan gempa. Itu disebut rumah instan sederhana sehat (risha). Ditargetkan siap digunakan pada akhir Juni 2023.
“Segera mobilisasi 100 unit risha dari stok di Palembang. Untuk huntap di titik relokasi yang sudah disiapkan lahannya oleh Pemerintah Kabupaten Natuna yang aman dari risiko longsor. Untuk mpempercepat pembangunannya, dilibatkan masyarakat terdampak di Kecamatan Serasan,” kata Basuki.
Lokasi huntap juga dilengkapi dengan utilitas, antara lain, jaringan air bersih, sanitasi dan mushala.

Tangguh terhadap Bencana
Rehabilitasi dan rekonstruksi pada wilayah terdampak bencana di Kepulauan Natuna tidak hanya membangun kembali rumah yang rusak, tetapi membangun permukiman baru yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana (build back better). Relokasi bagi 100 rumah warga terdampak penting dilakukan karena berada di zona merah kerentanan tinggi terhadap bencana longsor.
Direktur Jenderal Perumahan Iwan Suprijanto mengatakan, saat ini, risha yang telah lengkap terinstal ada 2 unit. “Sementara, 53 unit telah terpasang fondasi batu kali, dan masing-masing 1 unit telah terpasang sloof risha dan pasangan rangka baja ringan, serta 1 unit telah terpasang dinding bata sehingga progresnya sudah” kata Iwan.
Iwan menambahkan, pekerjaan akan dimulai kembali pada Rabu (26/4/2023) sambil menunggu lansir material risha. “Menunggu mobilisasi Exca PC150 dari Serasan Timur, pekerjaan akan dimulai pada Rabu karena masih ada pekerja yang berada di pulau seberang. Menurut rencana, pada awal Mei mendatang akan ada tenaga kerja tambahan dari Jawa sebanyak 50 orang,” tambah Iwan.
Sebelum program relokasi hunian tetap dilaksanakan sebagai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, Kementerian PUPR juga telah melakukan penanganan tanggap darurat bencana longsor di Natuna dengan mengerahkan alat berat untuk membantu proses evakuasi, pembersihan lumpur, dukungan sarana dan prasana bagi pengungsi, dan membuka jalur terdampak longsor. (HRZ)



















