JAKARTA, LINTAS – PT MRT Jakarta (Perseroda) menemukan lebih dari 4.000 artefak bersejarah selama pembangunan MRT Jakarta Fase 2A, terutama di kawasan Kota Tua Jakarta.
Temuan tersebut meliputi saluran air berbahan terakota, keramik, serta struktur kayu yang digunakan dalam pembangunan dinding kanal pada abad ke-17.
Project Management for Construction 2 MRT Jakarta, Indra Gunawan, mengatakan temuan tersebut memberikan gambaran mengenai infrastruktur dan kehidupan masyarakat Batavia pada masa lalu.
Salah satunya adalah saluran air terakota yang membentang dari kawasan Pintu Besar Selatan hingga mendekati Stasiun Jakarta Kota.
“Salah satunya adalah saluran air terakota, dari mulai Pintu Besar Selatan sampai ke ujungnya di sini kurang lebih ke area Stasiun Jakarta Kota,” kata Indra dalam kegiatan penyerahan temuan arkeologi proyek MRT Jakarta Fase 2A di Stasiun Jakarta Kota, Kamis (15/10/2026).

Selain saluran air kuno, tim menemukan keramik, cerucuk, dan papan kayu yang digunakan untuk membentuk struktur dinding kanal.
Di area COP201 pada trase Bundaran HI–Harmoni, ditemukan pula sebuah tugu jam yang untuk sementara dicabut dan direncanakan dikembalikan ke posisi semula.
Tim Ahli Arkeologi Proyek MRT Jakarta Fase 2A, Junus Satria Atmodjo, mengatakan jumlah artefak yang telah terdata mencapai lebih dari 4.000 benda.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya penggalian dan pendataan di lokasi konstruksi.
“Kalau ngomong di atas 4.000-an ya pasti lebih. Karena kan tiap hari nambah sebetulnya. Setiap kali kita mengangkat cerucuk baru, papan baru dari kanal, itu kan datanya selalu bertambah,” kata Junus.
Menurut Junus, temuan tersebut memiliki nilai penting untuk menelusuri sejarah Jakarta, termasuk hubungan perdagangan Nusantara dengan negara lain.
Analisis terhadap keramik menunjukkan adanya hubungan perdagangan antara Indonesia dan Jepang setidaknya sejak abad ke-17. Keramik yang ditemukan juga berkaitan dengan Vietnam, Kamboja, dan China.
“Jadi ini yang kita ingin ajak ya, sebetulnya kalau kita bicara tentang hubungan antar bangsa, kemudian bagaimana kita belajar juga antar bangsa itu, kita bisa melihat dari benda-benda kecil yang kelihatannya remeh-temeh,” katanya.
Desain MRT Disesuaikan
Penanganan temuan arkeologi dalam proyek MRT Jakarta Fase 2A dilakukan melalui kerja sama antara MRT Jakarta, tim ahli arkeologi, dan Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Junus mencontohkan penemuan struktur bagian bawah Benteng Batavia yang masih tersisa. Untuk melindungi struktur tersebut, MRT Jakarta melakukan penyesuaian desain proyek meskipun langkah itu membutuhkan biaya dan pekerjaan tambahan.
“Contoh yang tadi saya sampaikan itu ketika ditemukan struktur bagian bawah dari Benteng Batavia yang lainnya sudah rusak, kemudian MRT mengubah desainnya. Itu mahal dan susah,” tutur Junus.
Indra mengatakan penanganan dan penyerahan artefak dilakukan secara bertahap mengikuti perkembangan pekerjaan konstruksi.
Meski harus menangani temuan bersejarah, MRT Jakarta menyatakan jadwal pembangunan trase Bundaran HI–Kota masih dapat disesuaikan dengan rencana proyek.
“Kalau secara project timeline, ya kita bisa sesuaikan sih kalau untuk timeline (penyelesaian trase Bundaran HI-Kota),” ujar Indra.
Artefak Dipamerkan di Stasiun Jakarta Kota
Sekretaris Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta, Retno Setiowati, mengatakan artefak yang diserahkan MRT Jakarta akan dilestarikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan kebudayaan.
Setelah proses penyerahan, benda-benda tersebut menjadi aset pemerintah daerah dan direncanakan ditampilkan di kawasan Stasiun MRT Jakarta Kota.
“Jadi jangan sampai ibaratnya, memang nanti akan diserahkan karena diserahkan dari MRT ke Kebudayaan, menjadi aset kita ya, dan nanti insyaallah akan ditampilkan di MRT itu sendiri,” kata Retno.
MRT Jakarta juga berencana menghadirkan galeri di Stasiun Jakarta Kota yang terhubung dengan stasiun milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Indra mengatakan sejumlah temuan berukuran besar telah ditempatkan di bagian bawah stasiun, sedangkan artefak lainnya akan melalui proses kurasi sebelum ditentukan bentuk penyajiannya.
Hingga kini, konsep dan nama galeri tersebut belum ditetapkan. Terkait biaya penanganan artefak, Indra mengatakan komponen tersebut telah diperhitungkan dalam anggaran proyek sejak tahap perencanaan.
Namun, total anggaran yang dialokasikan belum dapat disampaikan karena perhitungannya masih berlangsung seiring pelaksanaan MRT Jakarta Fase 2A yang ditargetkan selesai pada 2029.(CHI)












