Museum Pusaka Nias adalah sebuah tempat yang menakjubkan di Pulau Nias. Tempat ini tidak hanya menawarkan penginapan yang nyaman, tetapi juga memperkenalkan para pengunjung pada warisan budaya dan keunikan pulau ini.
Dengan mengadopsi bentuk persegi rumah adat dari Nias Selatan dan rumah adat bulat Nias Utara, rumah-rumah penginapan ini menghadirkan arsitektur tradisional yang indah dan autentik.
Setiap kamar di Museum Pusaka Nias diberi tarif yang terjangkau. Mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per hari, termasuk makan pagi. Saat makan pagi, tamu dipersilakan untuk datang di restoran yang terpisah dari rumah penginapan. Menu yang disediakan tentu masih sederhana. Tidak banyak pilihan menu seperti hotel-hotel di kota besar. Namun, cukup untuk bisa mengisi perut di pagi hari. Ditemani debur ombak sambil menanti mentari naik (sunrise), sambil menikmati segelas kopi khas Nias atau teh, tamu pasti memiliki pengalaman baru sarapan unik ala Museum Pusaka Nias.

Setiap ruangan juga dilengkapi dengan kamar mandi, seperti layaknya hotel pada umumnya. Termasuk tersedia jaringan internet atau Wi-Fi.
Meskipun televisi tidak disediakan di setiap kamar, tamu dapat menikmati televisi yang tersedia di ruang tamu bersama. Keputusan ini sengaja diambil untuk memberikan pengalaman yang lebih terhubung dengan alam dan kebudayaan sekitar. Seakan mengundang para tamu untuk bersosialisasi dan menikmati suasana bersama.
Bangunan Tahan Gempa
Bangunan rumah penginapan ini dirancang dengan teliti mengikuti model rumah adat Nias yang asli. Atapnya menggunakan daun sagu, atau dikenal dengan sebutan bulu zaku dalam bahasa lokal. Dua gaya arsitektur utama, yaitu persegi dan bulat, memberikan variasi yang menarik dan menunjukkan keragaman budaya di Pulau Nias. Rumah-rumah ini dibangun dengan menggunakan bahan utama kayu kuat, seperti manawa, dan menggabungkan teknik penghubung kayu tanpa menggunakan paku.

Kayu-kayu besar (ndriwa) yang saling melintang di bagian bawah rumah (arö mbatö ), memberikan kekuatan ekstra pada struktur rumah. Dengan begitu, rumah adat Nias tetap kokoh bahkan saat terjadi gempa. Kaki penyangga rumah (ehomo) diletakkan di atas batu datar, tidak ditanam ke dalam tanah, juga memperkuat struktur yang tahan gempa.
Seperti diketahui, Kepulauan Nias yang berada di Samudra Hindia berada di jalur gempa atau ring of fire. Pada 28 Maret 2005, daerah ini diluluhlantakkan oleh gempa besar. Karena terletak di jalur gempa, tidak mengherankan jika nenek moyang orang Nias membangun rumah dengan arsitektur tahan gempa.

Menurut Direktur Pusaka Nias Nata’alui Duha, awalnya rumah-rumah adat tradisional khas Pulau Nias ini dibangun sebagai pajangan. Namun, konsep itu akhirnya dikembangkan dengan memfungsikan pajangan museum itu menjadi tempat penginapan.
Panorama Laut
Lokasi Museum Pusaka Nias yang terletak di tepi pantai menambah daya tariknya. Pengunjung dapat menikmati pemandangan laut yang menakjubkan sambil bersantai di paviliun-paviliun yang disediakan.

Museum ini juga memiliki kebun binatang mini. Berbagai binatang endemik Pulau Nias, seperti kancil (laosi), kura-kura (bo’ole), dan bahkan buaya dipelihara. Berbagai jenis unggas juga dipelihara di sini. Bahkan, burung beo atau disebut magiao, yang merupakan burung khas Nias, ditangkarkan di Museum Pusaka Nias ini. Hal ini menambah nilai tambah bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati pulau ini.

Bagi yang baru pertama kali datang ke Pulau Nias, saat tiba di Bandar Udara Binaka, ada banyak jasa angkutan, baik sepeda motor maupun mobil. Pengunjung tinggal meminta penyedia jasa transportasi tersebut untuk mengantarkan ke Museum Pusaka Nias.
Museum Pusaka Nias bukan hanya sekadar penginapan, melainkan juga sebuah tempat yang memperkenalkan kekayaan budaya dan alam Pulau Nias kepada para pengunjung. Dari arsitektur rumah adat yang memukau hingga kebun binatang mini yang menarik, penginapan ini menawarkan pengalaman yang holistik dan memikat. Ingin merasakan keunikan Pulau Nias dan memiliki pengalaman menginap yang istimewa? Museum Pusaka Nias adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan. (Harazaki)

























