Sumber informasi tepercaya seputar infrastruktur,
transportasi, dan berita aktual lainnya.
19 July 2024
Home Fitur Turba, Efek Jokowi, dan Standar Tinggi Pak Basuki

Turba, Efek Jokowi, dan Standar Tinggi Pak Basuki

Share

Pada awal-awal pemerintahan―bahkan jauh sebelumnya saat menjadi wali kota dan gubernur―gaya kepemimpinan Presiden Pak Jokowi sarat dengan semiotika. Penyampaian pesan lewat tanda telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap birokrasi. Sejak saat itu, apa pun tentang Jokowi, selalu menarik perhatian masyarakat. Istilah Jokowi’s Effect pun populer.

Oleh Harazaki

Blusukan. Langsung turun ke bawah. Kita semua pasti sangat hafal dengan kata itu. Ada satu momen yang semiotik. Dengan melipat lengan kemeja putihnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu masuk ke dalam sebuah gorong-gorong mengecek drainase. Di kesempatan lain, ia menyusuri kampung-kampung. Ia juga menyusuri sungai-sungai yang rawan menimbulkan banjir. Melihat langsung seperti apa keadaan sebenarnya. Setiap proyek ditinjau kemajuan pengerjaannya. Tidak menunggu laporan bawahan. Ia pastikan sendiri kondisinya dengan melihat langsung.

Efek Jokowi ini tertular ke semua menterinya. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono alias Pak Bas, salah satunya. Gayanya tidak jauh berbeda. Mereka sangat klop. Begitu kata warganet.

Dengan topi khas biru yang sedikit terlihat lusuh, Pak Bas tampak selalu ada di belakang Presiden. Di mana Presiden datang mengecek proyek infrastruktur, Pak Bas hadir. Ia selalu serius mendengarkan apa yang disampaikan Presiden saat menjawab pertanyaan media. Tampil sederhana. Apa adanya. Tidak caper. Itu ciri khas Pak Bas.  

Dirjen Turun Empat Kali

Di sebuah perbincangan dengan Uni Lubis, seorang wartawan senior, Pak Bas mengakui, sebelum Pak Presiden datang ke lokasi, dirinya sudah harus dua kali datang ke proyek tersebut.

“Saya buat standar itu. Jika menterinya dua kali, dirjennya harus empat kali. Begitu seterusnya ke bawah,” ujarnya.

Kalau begitu, bayangkan di bawahnya dirjen harus berkunjung berapa kali. Penanggung jawab pada sebuah proyek, ada kepala balai, satker, PPK, dan lainnya. Tentu semua harus patut pada standar yang ditetapkan Pak Bas.

Tak kurang Kepala BBPJN Sumut Junaidi mengamini gebrakan Pak Bas. Ia sangat bersyukur dan banyak belajar dari Pak Bas. “Sangat setuju! Kami yang ditugaskan jadi ujung tombak, di wilayah, tentu saja harus lebih menguasai dan lebih paham terhadap semua permasalahan di wilayah kami. Penguasaan lapangan dengan turba sangat penting untuk dapat menyelesaikan semua permasalahan dengan solusi yang terbaik,” kata Junaidi kepada penulis.

Presiden Jokowi didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Seskab Pramono Anung, dan Kepala BBPJN Sumut Junaidi meninjau kondisi infrastruktur ruas jalan Gunting Saga di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Rabu (17/5/2023). | Dokumentasi BPMI Setpres/Kris

Apakah kunjungan advance ini agar Presiden senang? Tentu bukan. Pak Bas memastikan proyeknya jalan sesuai target. Sesuai dengan perencanaan. Pak Bas ibaratnya tak mau bergaya di atas baju yang kotor. Ia terbuka apa adanya. Ia pastikan apa yang dilihat presiden nantinya, ketika sampai di lokasi, adalah kondisi sebenarnya. Tanpa poles make-up. Apalagi ABS, asal bapak senang!

Ini juga sempat viral. Kala itu, kedatangan Presiden di Lampung disambut dengan perbaikan mendadak di ruas jalan yang akan dilewati. Lalu mendadak pula Pak Jokowi dan Pak Bas mengubah rute yang dilewati.  Pak Bas dan Presiden memilih lewat jalan rusak. He-he, warganet pun bersorak dan tertawa puas. “Pemda kena Prank”. Begitu netizen mengomentari video itu.  

Kejadian di Medan hampir sama. Ketika sudah ditentukan lokasi jalan di Labuhan Batu Utara yang dikunjungi, juga mendadak diubah. “Pak Bas maunya jalan yang rusak parah,” ungkap sumber Lintas dari BBPJN Sumut. Naik helikopter, pendaratan pun tidak sesuai dengan rencana semula. “Beruntung ada heliped yang dekat dengan lokasi yang belakangan dituju itu,” sambung sumber Lintas.

Presiden Jokowi, didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, menjawab pertanyaan wartawan saat meninjau jalan rusak di Jambi, Selasa (16/5/2023). | Dokumentasi Kementerian PUPR

Kurang lebih ceritanya sama. Saat Pak Bas dan Pak Jokowi berkunjung ke Nias, Rabu (6/7/2022). Saat itu, Presiden Jokowi meninjau proyek Peningkatan Jalan Laehuwa-Ombölata-Tumula-Faekhuna’a. Rencana semula, melihat kondisi jalan yang kurang memadai, Presiden dan rombongan akan naik helikopter ke lokasi.

“Mendadak Pak Jokowi minta naik mobil saja,” kata Bupati Nias Utara kepada Lintas beberapa waktu lalu. Jadilah Pak Jokowi dan Pak Bas sampai ke lokasi konvoi dengan rombongan lainnya melewati jalan kabupaten dan jalan kecamatan.

Presiden Jokowi, didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (belakang), menjawab pertanyaan wartawan saat meninjau proyek Peningkatan Jalan Laehuwa-Ombölata-Tumula-Faekhuna’a, Nias Utara Rabu (6/7/2022). | Dokumentasi Kementerian PUPR

Tradisi Usang

Jika kita sedikit melihat jauh ke belakang, saat presiden atau menteri datangi suatu tempat, bawahannya sudah harus mempersiapkan segala sesuatunya. Yang tidak enak dipandang mata dibuat indah. Segala macam dipersiapkan. Itu sudah usang. Tak ada lagi ABS!

Sekarang, gaya birokrasi sudah berubah. Pak Bas memberi standar sangat tinggi. Ia selalu berusaha mengimbangi gaya kepemimpinan Jokowi dan siaga setiap saat.

“Ketika saya tidak bisa ikut dalam kunjungan Pak Presiden, ponsel saya pegang dan siaga penuh. Saya tahu Presiden selalu menghubungi saya jika terkait infrastruktur,” kata Basuki kepada Uni Lubis.

Tradisi pemerintahan dengan standar tinggi sudah diterapkan oleh Pak Bas, khususnya di Kementerian PUPR yang dipimpinnya. Membiasakan diri untuk turba, turun ke bawah, sebuah keharusan.

Tak salah, tangan midas Pak Bas membangun infrastruktur di seluruh Nusantara tak diragukan lagi. Akankah standar tinggi kepemimpinan dan birokrasi kelak akan kita temukan dalam pemerintahan yang akan datang? Semoga saja.

Oleh:

Share

Leave a Comment

Copyright © 2023, PT Lintas Media Infrastruktur. All rights reserved.