Empat tahun lalu, Kelurahan Pamaluan di Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur, hanyalah salah satu dari ratusan perkampungan sunyi yang terhampar di tengah rimbunnya hutan tropis.
Tapi pagi itu, Rabu (4/6/2025), suasana berubah penuh syukur dan haru. Di halaman Masjid Miftahul Firdaus, suara takbir menggema, menyambut datangnya seekor sapi kurban istimewa, hadiah dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Seekor sapi bertubuh kekar diturunkan dari truk terbuka. Anak-anak kecil berlarian mendekat, mengamati dari kejauhan dengan mata membelalak. Beberapa warga dewasa menundukkan kepala, tersenyum kecil, seperti mengamini keberkahan yang datang dari ibu kota yang sedang tumbuh di tengah-tengah mereka.
“Ini amanah dari Bapak Presiden,” ujar Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, yang juga Mantan Menteri PUPR, yang hadir langsung mewakili Presiden.
“Mohon diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pelaksanaan ibadah kurban.”
Basuki berdiri tegak di tengah panas pagi itu, mengenakan kemeja putih dan topi hitam andalannya, menyampaikan pesan Presiden dengan nada hangat dan tulus. Ia tidak sekadar menjalankan tugas, tapi membawa harapan—bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara tak hanya soal gedung pencakar langit, tapi juga soal hati dan nilai-nilai.
Sambutan yang Penuh Haru dan Syukur
Di antara warga yang hadir, Malkan, pengurus Masjid Miftahul Firdaus, tampak berkaca-kaca. Dengan suara tertahan ia mengucap syukur, “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan sapi dari Bapak Presiden. Semoga beliau selalu diberi kesehatan, panjang umur, dan kekuatan dalam memimpin bangsa.”
Tak jauh dari sana, di kawasan Bumi Harapan, suasana tak kalah haru menyelimuti Masjid Nurul Muttaqin. Di sinilah satu sapi lainnya diserahkan. Seorang perwakilan panitia kurban berkata lirih, “Alhamdulillah, kami akan tunaikan amanah ini sebaik mungkin. Semoga membawa berkah untuk kami semua.”
Suasana hari itu tidak hanya merayakan ritual tahunan, tetapi juga mengukir sejarah baru, saat seorang Presiden, dari kejauhan, menyentuh hati warganya yang sedang membangun mimpi di tanah baru.
Baca Juga: Jalan Tol Trans Sumatera Ubah Wajah Ekonomi Riau, Hilirisasi Kini Jadi Keniscayaan
Bagi masyarakat IKN, kurban tahun ini bukan sekadar tradisi, tapi simbol hadirnya negara di tengah kehidupan mereka yang terus berubah. Ketika pembangunan IKN terus bergulir, banyak warga masih beradaptasi dengan ritme baru: lalu lintas alat berat, perumahan pekerja, kantor pemerintahan yang mulai berdiri.
Di tengah itu semua, seekor sapi kurban terasa seperti jembatan—menghubungkan istana dengan mushola kecil, menghubungkan elite dengan rakyat.
“Ini bukan soal daging,” kata seorang warga muda sambil membantu menurunkan hewan kurban. “Ini soal perhatian. Kami merasa tidak dilupakan.”
Dan perhatian itu datang dengan cara yang sederhana, namun penuh makna: seekor sapi, dikawal tangan pemerintah, diserahkan ke rumah ibadah, lalu dipotong untuk dibagikan ke seluruh warga, tanpa membedakan status atau suku. Di tanah yang dulunya hanya dihuni pepohonan dan tanah merah, kini tumbuh semangat baru bernama persaudaraan. (GIT)




